Dihargai Rendah, Warga Terdampak Mega Proyek Perluasan Kilang Balongan Tolak Lepaskan Tanah

- 18 Oktober 2020, 14:07 WIB
Kilang Balongan di Kabupaten Indramayu, bakal ditingkatkan kapasitas produksinya melalui mega proyek petrokimia dengan nilai inestasi mencapai Rp 100 triliun.* /Agung Nugroho/

CIREBON RAYA - Masyarakat pemilik tanah yang terdampak pembangunan industri Petrokimia di Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu menuntut ganti rugi tanah dengan harga proporsional. Penawaran dari pihak Pertamina dinilai terlalu rendah dan tidak menguntungkan.

Melalui paguyuban warga terdampak, Minggu (18/10/2020), mereka akan menolak melepas tanahnya karena harga terlalu murah. Warga menuntut harga disesuaikan dengan pembebasan tanah untuk industri sejenis yang berada di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

"Tanah kita dihargai separuh dari harga pembebasan tanah di Tuban. Ini jelas tidak adil. Kami menolak jika harga terlalu murah," tutur Sugono, perwakilan dari warga terdampak.

Melihat gelagat harga tanah tidak sesuai, warga menghimpun diri dalam paguyuban. Tuntutannya ialah harga tanah disamakan dengan yang diterapkan di Tuban.

"Kita nuntut agar disamakan dengan Tuban," tuturnya didampingi Ujang Saefurahman, juru tulis Desa Sukareja, Balongan yang juga mewakili warga terdampak.

Warga tengah minta perlindungan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah setempat. Rencananya, Senin besok (19/10/2020), mereka akan mengadu ke dewan dan menyampaikan tuntutan soal harga tanah.

"Kita juga sudah kirim surat ke berbagai pihak. Ke Pertamina, kementrian, gubernur termasuk ke badan pertanahan," tutur dia.

Standar Tuban

Sugono mengungkapkan perbedaan harga antara Tuban dan Balongan, Indramayu. Untuk Tuban, tanah darat kategori A dihargai Rp 1.200.000 per meter persegi (m2), kategori B (tanah sawah pinggir jalan) Rp 860.000/m2 dan C (sawah di dalam) Rp 675.000/m2.

Halaman:

Editor: Agung Nugroho


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X